Neraca Bank Indonesia Defisit Penyumbang terbesar defisit adalah upaya menarik ekses likuiditas dan menjaga rupiah.
JAKARTA -- Situasi ekonomi yang tak menentu di dunia maupun di dalam negeri, ikut berdampak pada neraca Bank Indonesia (BI) 2007. Buktinya, berdasarkan laporan keuangan 2007, BI mengalami defisit sampai sebesar Rp 1,4 triliun.
"Sebanyak 80 persen dari angka defisit tersebut disumbangkan oleh kebijakan untuk menyedot ekses likuiditas akibat tekanan terhadap rupiah," ungkap Deputi Gubernur BI, Budi Mulya, Senin (19/5), di Jakarta. Laporan Keuangan BI 2007 itu sudah diaudit Badan Pemerika Keuangan (BPK) dan mendapat opini Wajar Tanpa Pengecualian (WTP).
Budi menjelaskan, saat harga minyak mentah dunia terus bergerak naik, maka inflasi menjadi ancaman ekonomi, bukan hanya di dalam negeri tapi juga global. Terkait itu, sambungnya, BI sebagai bank sentral melakukan tiga hal. Pertama, menaikkan suku bunga BI rate, yang kini sudah berada di posisi 8,25 persen. Kedua, menjaga volatilitas rupiah, jangan sampai merosot terlalu tajam. Ketiga, mengelola likuiditas agar cukup tapi tidak berlebih.
"Kalau likuiditas berlebih justru akan semakin mendorong ekspektasi inflasi," tambah Budi. Upaya menyedot ekses likuiditas dan menjaga volatilitas rupiah itulah yang berkontribusi besar terhadap defisit neraca BI. Budi menambahkan kenaikan harga komoditas primer dikhawatirkan akan mendorong meningkatnya tekanan biaya (cost push inflation). Pihak BI, katanya, memperkirakan inflasi Indonesia sepanjang 2008 bisa berada di atas 9 persen, bahkan lebih jika kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) benar diterapkan.
Kendati mengalami defisit, Budi menegaskan, kondisi itu tidak serta merta menurunkan kredibilitas bank sentral. "Pertimbangan kestabilan moneter adalah segalanya, meski harus ada beban-beban biaya," katanya. Kondisi defisit tersebut akan teratasi jika situasi ekonomi, dunia dan domestik, berbalik normal sehingga biaya-biaya untuk menarik ekses dana akan berkurang.
Pos Luar BiasaFaktor lain yang menyumbang pada angka defisit tersebut, menurut Deputi Gubernur BI, Ardhayadi M, adalah tidak ada lagi pos-pos luar biasa. Pada neraca 2006, laporan suprlus defisit BI tercatat surplus sampai Rp 31 triliun, lantaran ada pos luar biasa sebesar Rp 37,9 triliun. "Pada 2007 tidak ada lagi pos luar biasa itu," ungkap Ardhayadi.
Pos luar biasa dimaksud, ia bilang, berasal dari restrukturisasi Surat Utang Pemerintah nomor SU-002/MK/1998 dan SU-004/MK/1999, sesuai kesepakatan Menteri Keuangan dan Gubernur BI. "Pos atau penerimaan luar biasa itu bisa menutupi defisit neraca BI 2006 yang mencapai Rp 6,9 triliun," jelas Ardhayadi.
Lebih lanjut, Ardhayadi menjelaskan catatan beban pada beban di neraca 2007 mengalami peningkatan dibanding neraca 2006. Kalaupun ada beban yang menurun adalah beban pengendalian moneter, dari Rp 32,7 triliun (neraca 2006) menjadi Rp 25 triliun (neraca 2007). "Namun, penurunan tersebut bukan karena memang terjadi penurunan beban, tapi lantaran pada neraca 2006 ada pelunasan seluruh pinjaman ke Dana Moneter Internasional (IMF), yang bunganya mencapai Rp 9,7 triliun," jelas Ardhayadi.
Sumber :republika.co.id
tgl 21 05 08
Wednesday, November 25, 2009
Subscribe to:
Post Comments (Atom)

No comments:
Post a Comment