Wednesday, November 25, 2009

Penelitian ini menggunakan alat analisis regresi linier dengan metode OLS dengan model yang digunakan yaitu model Penyesuaian Parsial atau (Partial Ad

Penelitian ini menggunakan alat analisis regresi linier dengan metode OLS dengan model yang digunakan yaitu model Penyesuaian Parsial atau (Partial Adjusment Model). Untuk memperoleh hasil estimasi yang valid dilakukan pengujian secara statistik dan pengujian asumsi klasik. Pengujian secara statistik meliputi uji t, uji F dan uji R2. Adapun hasil dari uji t menunjukan bahwa hanya variabel pendapatan nasioanal yang mempunyai pengaruh signifikan terhadap neraca transaksi berjalan di Indonesia. Uji F menunjukkan bahwa secara bersama – sama variabel independen berpengaruh signifikan terhadap neraca transaksi berjalan di Indonesia. Dengan nilai Uji F sebesar 38,201. Uji R2 menunjukkan sebesar 0,941 sehingga variabel dependen mempengaruhi variabel dependen sebesar 94,1% sedangkan sisanya 5,9% dipengaruhi oleh variabel lain diluar model. Pengujian asumsi klasik meliputi multikolinieritas, Autokorelasi dan Heteroskedastisitas. Ada 2 variabel yang terjadi gejala multikolieniritas yaitu variabel kurs dan SBI. Sedangkan untuk Heteroskedastisitas dan autokorelasi menunjukkan bahwa lolos dalam pengujian dan tidak ada gejala gangguan sehingga penelitian ini baik digunakan untuk pengambilan keputusan. Hasil interpretasi dari masing – masing nilai koefisien regresi diperoleh hasil bahwa hanya pendapatan nasional mempunyai pengaruh negatif terhadap neraca transaksi berjalan di Indonesia. Untuk variabel Kurs, SBI dan SIBOR tidak berpengaruh secara signifikan terhadap neraca transaksi berjalan di Indonesia.
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah Indonesia sebagai negara yang menganut sistem perekonomian terbuka, keadaan dan perkembangan perdagangan luar negeri serta neraca pembayaran internasional tidak bisa lepas dari hal-hal yang sedang dan akan berlangsung di dalam percaturan ekonomi global. Situasi dan kecenderungan umum perekonomian dapat dipastikan akan mempengaruhi perekonomian Indonesia. Perekonomian dunia yang lesu akan melesukan pula perdagangan antar negara di dunia, termasuk Indonesia. Hubungan ekonomi dengan luar negeri adalah bagian dari hubungan internasional secara luas, yang mencakup juga hubungan politik, militer, pendidikan dan kebudayaan. Bagi negara sedang berkembang seperti Indonesia, terlebih dengan system ekonomi terbuka, memungkinkan hubungan ekonomi dengan luar negeri terjadi. Hampir setiap hari dalam surat kabar kita baca bagaimana hubungan-hubungan ekonomi dengan luar negeri baik secara bilateral maupun multilateral itu terjadi (Widodo, 1990 : 81). Tentu saja hubungan ekonomi dengan luar negeri ini memberi pengaruh terhadap perekonomian dalam negeri. Ada pengaruh buruk, tapi juga ada pengaruh menguntungkan. Hubungan ekonomi internasional menyangkut ransaksi barang, jasa modal, moneter, alat pembayaran dan semuanya berpengaruh terhadap ekonomi dalam negeri. Kajian tentang pengaruh hubungan ekonomi internasional terhadap ekonomi dalam negeri akan tercatat dalam Neraca Pembayaran dengan cara pembukuan tertentu seperti yang ditetapkan oleh IMF (International Monetary Fund) (Widodo, 1990 : 81). Dalam berbagai tulisan, kajian ekonomi tentang hubungan ekonomi luar negeri banyak berdasarkan pada Neraca Pembayaran. Kemudian dari Neraca Pembayaran ini dapat dianalisis hal-hal yang menyagkut perdagangan barang (ekspor-impor), transaksi jasa, nilai tukar, nilai utang dan kewajiban pelunasan, defisit transaksi berjalan, cadangan devisa, rasio perdagangan internasional. Dengan kata lain indicator Neraca Pembayaran akan menyangkut masalah-masalah produksi nasional, anggaran pemerintah, moneter dan alat pembayaran internasional (Widodo, 1990 : 81). Dalam tahun 2000 secara keseluruhan neraca pembayaran Indonesia menunjukkan perkembangan yang cukup menggembirakan. Hal ini ditandai dengan semakin membaiknya kinerja ekspor nonmigas dan meningkatnya penerimaan ekspor migas sehubungan dengan tingginya herga minyak di pasar internasional. Di sisi lain, mengingat kandungan impor untuk menghasilkan barang ekspor masih cukup tinggi meningkatnya kinerja ekspor nonmigas telah pula memberikan dorongan terhadap meningkatnya impor nonmigas terutama dalam bentuk bahan baku dan penolong. Peningkatan impor tersebut juga sejalan dengan meningkatnya kegiatan ekonomi di dalam negeri. Sementara itu, defisit transaksi jasa-jasa juga mengalami peningkatan yang disebabkan oleh tingginya pembayaran bunga utang luar negeri, meningkatnya pembayaran bagi hasil minyak untuk kontraktor, serta meningkatnya biaya transportasi yang terkait dengan kegiatan impor. Secara keseluruhan transaksi berjalan dalam tahun laporan tetap menunjukkan surplus bahkan lebih tinggi dari tahun sebelumnya. Dari sisi transaksi modal, berkurangnya pemasukan modal pemerintah dan masih tingginya defisit didalam lalu lintas modal swasta, telah menyebabkan transaksi modal dalam tahun laporan masih mengalami defisit. Dengan perkembangan tersebut secara keseluruhan NPI dalam tahun 2000 mengalami surplus sebesar $5,0 miliar sehingga posisi cadangan devisa pada akhir tahun 2000 mencapai $29,3 miliar atau setara dengan 6,3 bulan kebutuhan impor dan pembayaran utang luar negeri pemerintah.Dalam periode laporan, transaksi berjalan mencatat surplus sebesar $7,7 miliar, meningkat 33,0% dibandingkan dengan surplus dalam tahun sebelumnya sebesar $5,8 miliar. Surplus transaksi berjalan tersebut terutama berasal dari surplus neraca perdagangan yang mencapai $25,1 miliar. Kenaikan surplus neraca perdagangan yang tajam terutama disebabkan oleh meningkatnya penerimaan dari sektor migas sebagai akibat tingginya harga minyak di pasar internasional. Disisi lain, surplus neraca perdagangan di sektor nonmigas mencapai $14,9 miliar, relatif tetap dibandingkan dengan tahun sebelumnya. Sementara itu neraca jasa mencatat defisit sebesar $17,4 miliar, lebih besar dari tahun sebelumnya yang mencatat defisit sebesar $14,9 miliar.
http://skripsi.blog.dada.net/

No comments:

Post a Comment